Posts mit dem Label kerja part time werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label kerja part time werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Dienstag, 6. November 2012

Belajar Untuk Bangkit

"Maybe it's just not my day". Ach, lagi-lagi Ausrede..

Saya hanya menghibur diri sendiri lagi dengan kalimat itu. No, I don't think I'm gonna use that sentence.
Kemarin saya baru aja ngobrol sama Intan. Pertanyaan dia simpel, "nyesel ga sih kak kuliah di Jerman?"
Saya dengan mantapnya kemarin menjawab "gak". 

Tiba-tiba hari ini menerima 2 kabar yg ga terlalu mengenakkan:
1. lamaran buat jadi asisten lab SRT ditolak
2. acara rabu besok utk bisa dapat informasi dari Olympus dibatalkan

Masih kekeuh sama jawaban saya? Iya kok. Tapi sedih banget rasanya euy. Pasalnya ini kerjaan adalah salah satu langkah mewujudkan resolusi saya tahun ini. Setelah kemarin proposal utk beasiswa dari FH ditolak (lagi), Papi bilang nilai saya terlalu buruk untuk mendapat sebuah kerjaan, nah hari ini ditambah kerjaan akhirnya malah dapat penolakan, sedih banget rasanya. 

Banyak yang bilang, kalo ingin sesuatu, doain, doain. Ini udah didoain di rosario, misa, tapi kok ga dapat juga.. Rasanya sebel, pengen marah, tapi masa iya marah sama Tuhan. Punya hak apa gw..? Mungkin ini yang namanya Tuhan lagi buka jalan untuk sesuatu yang lain. I'll keep on searching, God. Bantu saya untuk bangkit lagi, Tuhan..

Montag, 19. März 2012

Officially... poor

Good luck, bad luck, who knows.
Yesterday your parents might be rich, who's gonna expected that today your parents lost more than 30 million rupiah.

That happened to me just today.

My house in Bekasi was robbed. Mom told me crying that the robber broke up the window, got into my parents' bedroom and stole everything he could bring with. Euros, dollars, jewels, cameras, video camera, laptops (mom's and dad's). My money also!! :(

But I'm still grateful that there was nothing happened with my parents. They just sad. Of course. My mom especially, because she kept all the money that she will use to pay the flight to Germany this summer at home and now it's all gone.

Well, I'm officially poor student now :p I should be ready for every condition that I may face in these next months. Should spend some money, that I really don't know HOW!!

I just met my ex-boss in the cafetaria this afternoon. She told me that I had done 60 hours overtime and I will be given a new 3-month-contract without working. I was shocked. I had done more than 160 hours overtime, 174 hours to be exact (more or less 8 months salary), how could I be paid only for 3 months???? I'm still wondering :((

Ok, next plan. I'm gonna call Alexander's neighbor, if they still need baby sitter. I hope, from that I can pay AT LEAST my guitar course. When summer comes, then I should be ready to sing more songs and play on the street. Hmm. Oh ya, I'm crossing fingers for the scholarship from KSG, as well.

I hope this is really the last bad news I have to hear.. Oh my goodness.

Anyway, there should be good news beside the bads. I got 2,7 for Konstruktionselement(Constructional Elements), which I thought, I would just get either 4,0 or 5,0 (failed). I was so happy :)


Mittwoch, 7. März 2012

Life has to Move On

I finally got myself courage to decide.

I quit from the job I've done for 1 year. It was a hard decision, for me at least. I couldn't say I love the job, but I would say I really love the atmosphare surround the job. My boss and the office manager are so kind. I got the advantages to improve my German. and what I love the most was talking or listening to the german teachers while they were in the office. Lots of story. I'll miss the job :')

But anyway I hope by quitting I've started my all first step fulfilling my resolutions and my wishlist, I hope. I just do believe, no matter the way you've chosen, means that you just go another way that God has also prepared for you and believe that in the end of both ways He had prepared something special, something nice. They ought not be the same, but they are nice :) Just believe it :)
Life is freedom!

Mittwoch, 4. Januar 2012

Smartphone dan Falsafah Hidup

Hi2, saya mau share sedikit nih tentang judul di atas. Barang yang sekarang sedang amat sangat ngetrend terutama di kalangan pelajar dan masyarakat Indonesia. dan super duper membuat iri.

Kenapa saya menulis tentang ini? Simpel saja, karena mama saya membelikan saya smartphone sebagai kado natal. Barangnya belum nyampe sih sebenarnya. Masih tunggu adik saya datang dulu ke sini. Pas mama saya cerita, saya cuma diam. Ga tau mau seneng apa ga. Cenderung ga seneng sih. Kalau ga salah, kurang lebih reaksinya kayak gini:
"Kurang kerjaan,ngapain kok beli smartphone?" #kurang ajar ya. hehehe

Waktu itu ada Ega di rumah, Ega denger deh otomatis. Saya langsung gak enak, terus bilang makasih sama mami *sudah layak dan sepantasnya*

Seneng sih dibeliin HP baru, canggih pula. Mungkin nyokap udah stress gara-gara nomor saya yang sekarang agak susah dihubungi, atau ga bisa dihubungi sama sekali. Oh ya, saking gak enaknya sama Ega, saya jadi cerita ke dia pas udah selesai skype sama mama:

"Ega, sori ya kalau lw denger gw kayak orang yang ga tau berterima kasih gara-gara dikasih smartphone. Bukannya ga berterima kasih, tapi gw ngerasa kok gw sebenernya ga perlu-perlu amat punya smartphone"

Ega bilang: "yaelah Dit, lw anggap aja itu sebagai tanda cinta bokap nyokap lw buat lw. Jangan protes lah"

Dita lanjutin: "Gw lebih senang dikasih yang lain mungkin, Ga. Itu boros banget ya nyokap beli smart phone sampe 3 sekaligus gitu. Apa-apaan coba. Mendingan ditabung buat hal-hal yang lain"

Ega: "misalnya?"

Dita : "yah kan taun depan mau ke sini, kenapa ga ditabung aja?"

Ega: "yah lw mintanya yang lebih mahal. gelo. hahaha. Itu kan tanda cinta bokap nyokap buat lw, ya mungkin dengan smartphone. terima aja."

Dita: "mmmh yah bukan gitu. gimana ya, Ga? Gw kok yakin nyokap gw beliin gw smartphone gara-gara adik gw minta. Ega, gw punya prinsip: bokap nyokap gw boleh kaya, tapi bukan gw yang kaya. Gw bukan orang yang mau memanfaatkan kekayaan bokap nyokap untuk mendapatkan apa yang gw mau. Bokap gw kaya, karena dia kerja keras, merintis semuanya dari awal. Gw dan adik gw udah selayaknya tau, kayak apa lamanya dan susahnya merintis karier. Gw pengen punya smartphone, tapi kalau gw bisa beli sendiri. Bukan dari uang bokap. Gw selama ini berusaha memberi teladan ke adik gw untuk hidup hemat dan ga perlu beli barang-barang branded. Kalau nyokap gw sekarang beliin smartphone, yah sama aja boong, Ga. Gagal rasanya."

Ega: "Iya Dit, gw juga ngasih contoh kaya gtu ke adik gw.. tapi susah juga ya... Udah lah Dit, disyukur aja smartphonenya. Tanda cinta tuh"

Dita: "Gw ada ketakutan, Ga, kalau sebelum adik gw lulus bokap gw udah musti pensiun dini, gara-gara pabrik ditutup. Menurut gw, kalau cinta, ga perlu beliin barang-barang mahal kaya gtu, gw juga udah tau kok mereka cinta sama gw. Kan bisa beliin yang lain. Lagian menurut gw, kehadiran orang tua gw jauh lebih berharga daripada barang-barang itu."

Saya ga ingin orang tua saya merasa dengan membelikan smartphone maka cukup untuk menghibur saya di negeri orang ini. Ga mungkin lah. Buat gw, antara mereka selalu ada buat gw, walaupun jauh udah lebih dari cukup. Kado yang berarti banget buat saya itu bahwa mereka ada di samping saya. Sejauh ini dukungan untuk saya, telpon, dan skype jauh lebih berarti. Baik. Anggaplah kado smartphone ini sebagai ungkapan galau nyokap yang saya tinggal kelamaan dan akan ditinggal juga sama adik saya. :) #pindah dong mi :p Besok-besok ga perlu ya mi, beliin barang-barang macam itu. Sebenarnya waktu saya ulang tahun bulan Desember kemarin, saya ingin sekali mama, papa datang kasih surprise, ternyata tidak. hahaha. Mami papi udah kaya, dita juga mau belajar jadi kaya. Sama, merintis semuanya dari nol :) ga ada yang instan di dunia ini.

Sonntag, 9. Oktober 2011

Ketika Part Time jadi Salah Kaprah..

Post singkat, renungan singkat mungkin.

Kemarin malem saya telpon2an dengan sahabat saya, Eca. Dia cerita tentang kegalauan dia hari itu. dan akhirnya sampai pd cerita ada temannya yang diD.O setelah gagal ujian lisan (dlm bbrp kasus ujian lisan di Jerman berarti remediasi ke 3). Gagal berarti pulang atau cari uni baru. Tapi nasib kalau anak itu kuliahnya sudah di University of applied science, krn chance 'back for good'nya jauh lebih besar ktimbang dpt bangku di tempat lain.

Eca cerita kemungkinan2 yg membuat anak ini gagal ujiannya. Kerja part time kebanyakan.
Ini yang sangat disayangkan. Kalau seorang calon student memutuskan untuk kuliah di Jerman dengan alasan bisa sambil part time, maka PADA UMUMNYA kuliahnya ga beres.

Lalu hobi orang Indonesia nih kalo liburan panjang, jd buruh di pabrik, ntah pabrik apa. Gajinya lumayan, 2xnya gaji gw di uni. dengan basis, ga bayar pajak pula. kalo hoki, lw kerja full sbulan, lw dpt gajinya tiga bulan. which is kl dtotal,lebih besar dr gaji gw 6 bulan. asik kan? bisa kerja dan menghasilkan uang sendiri? Banyak student sayangnya setelah itu ga kuat iman dan kehilangan orientasi. Di sini, kuliah menjadi kalah prioritas dgn kerja. Ga mau lagi dibiayain ortu. Akhirnya kuliahnya keteteran, ga kelar2 dan kena DO. sayang kan?

Memang ada beberapa orang yang orang tuanya kurang mampu untuk membiayai. Kalo begini, kesulitan nomor satu adalah pas mau perpanjang visa. Lalu mereka cari kerja untuk menutupi biaya hidup di Jerman. Susah, Teman. Saya tau kesulitan mereka, tp menurut saya ada cara lain kok untuk bisa tetap fokus kuliah. Misalnya beasiswa. DAAD emang ga punya beasiswa untuk bachelor, tp misalnya KHG/KSG, atau lembaga lain di bawah uni, ada aja yg punya tabungan untuk anak2 yg emang kurang mampu. Tinggal gimana caranya teman2 membuktikan, uang boleh kurang, tp otak HARUS berisi. Kali ini saya lebih setuju dengan Frans Mandeko: lebih cepet selesaiin kuliah lebih baik. Mau tau kenapa? Makin cepat lulus berarti juga semakin sedikit biaya hidup yg lw butuhkan, setelah itu kita bisa mendapatkan pekerjaan yg jauh lebih layak daripada jadi buruh, dgn gaji minimal 3x gaji buruh.

Saya tau ada yang pro dan kontra dengan pandangan ini. Saya pun bersyukur karena ayah saya masih bisa membiayai kuliah saya. Dan beruntung juga saya masih bisa mendapatkan kerja tetap di FH. Sekali lagi, ga ada yg salah dengan bekerja, selama seorang student msh tetap dalam orientasinya. Seorang student prioritas utamanya belajar. Jangan juga menyindir2 orang yg ga jadi kuli selama liburan dong. Kok sirik amat orang lain pny nasib baik...